Studi Fenomenologis untuk Mahasiswa Pascasarjana
Penelitian fenomenologis menempatkan pengalaman subjektif individu sebagai pintu masuk utama untuk memahami makna suatu fenomena. Bagi mahasiswa pascasarjana, pendekatan ini sangat berguna ketika pertanyaan penelitian berfokus pada “bagaimana” dan “apa arti” dari pengalaman hidup, misalnya pengalaman belajar daring, proses menulis disertasi, atau dinamika kepemimpinan dalam tim riset. Artikel ini menguraikan secara rinci konsep, desain, teknik pengumpulan data, analisis, serta cara memastikan kepercayaan hasil dalam studi fenomenologis. Semua poin dilengkapi dengan contoh konkret dan kutipan sumber sehingga dapat langsung diterapkan dalam proposal atau tesis Anda.
Landasan Filosofis
Fenomenologi berakar pada karya Edmund Husserl (1913) yang memperkenalkan epoche—praktik menangguhkan praduga pribadi agar makna esensial dapat muncul tanpa penyaringan konseptual. Husserl menekankan intentionalitas, yaitu bahwa setiap kesadaran selalu “mengarah pada” sesuatu; pengalaman tidak berdiri sendiri, melainkan selalu tentang objek atau situasi tertentu (Husserl, 1913).
Selanjutnya, Max van Manen (1990) mengembangkan pendekatan lived experience dalam konteks pendidikan, menyoroti pentingnya deskripsi naratif yang kaya untuk mengungkap struktur makna. Clark Moustakas (1994) menambahkan prosedur sistematis untuk mengidentifikasi essence (esensi) melalui proses reduksi fenomenologis. Bersama, ketiga tokoh ini menyediakan kerangka filosofis dan metodologis yang dapat diadopsi oleh mahasiswa pascasarjana.
Desain Penelitian
Pemilihan Partisipan
Kriteria inklusi : partisipan harus memiliki pengalaman langsung dengan fenomena yang diteliti.
Jumlah : 5‑10 orang biasanya cukup untuk mencapai saturation tematik (Creswell, 2013).
Strategi rekrutmen : purposif sampling atau snowball sampling, tergantung pada akses dan karakteristik populasi.
Pengumpulan Data
Wawancara semi‑struktur
Pertanyaan terbuka seperti “Jelaskan bagaimana rasanya menulis bab pertama disertasi Anda.”
Durasi 45‑90 menit, direkam dengan izin.
Catatan lapangan
Peneliti mencatat bahasa tubuh, intonasi, dan konteks situasional yang tidak terekam audio.
Jurnal atau diary
Partisipan diminta menulis refleksi harian selama satu minggu, menambah kedalaman data (Smith, Flowers & Larkin, 2009).
Etika Penelitian
Informed consent tertulis, menekankan kerahasiaan dan hak untuk mengundurkan diri kapan saja.
Anonimitas dipertahankan dengan kode (mis. P1, P2).
Member checking: transkrip dikirim kembali ke partisipan untuk verifikasi.
3. Analisis Data Fenomenologis
Transkripsi dan Familiarisasi
Setiap wawancara ditranskrip verbatim, termasuk jeda dan intonasi. Peneliti membaca transkrip berulang‑ulang untuk memperoleh sense of the whole (van Manen, 1990).
Pengkodean (Coding)
Open coding : menandai frasa yang mencerminkan pengalaman penting.
Axial coding : mengelompokkan kode menjadi tema‑tema awal (mis. “kebingungan metodologis”, “dukungan supervisor”).
Selective coding : memilih tema utama yang paling esensial bagi fenomena (Moustakas, 1994).
Reduksi Fenomenologis
Moustakas (1994) menyarankan dua langkah:
Horizontalisasi – memperlakukan semua pernyataan dengan nilai yang sama, menghilangkan pengulangan.
Clustering – menggabungkan pernyataan yang memiliki makna serupa menjadi unit makna (meaning units).
Identifikasi Essence
Setelah unit makna terbentuk, peneliti mencari pola struktural yang menggambarkan essence universal. Essence harus dapat dipahami tanpa mengabaikan variasi individual, sehingga menghasilkan deskripsi yang “thick” namun tetap terfokus.
Validitas dan Kredibilitas
Triangulasi : menggunakan wawancara, jurnal, dan observasi lapangan.
Peer debriefing : diskusi dengan kolega untuk menguji interpretasi.
Audit trail : mencatat keputusan metodologis secara sistematis (Creswell, 2013).
Penulisan Hasil
Hasil disajikan dalam narasi deskriptif yang menggabungkan kutipan verbatim (mis. “Saya merasa terjebak di antara tuntutan akademik dan kehidupan pribadi.”) dengan interpretasi peneliti. Struktur umum meliputi: (a) deskripsi konteks, (b) tema utama, (c) essensi, (d) implikasi teoretis dan praktis.
4. Contoh Studi Fenomenologis untuk Pascasarjana
Judul: Pengalaman Mahasiswa Doktoral dalam Menulis Proposal Penelitian di Era Digital
Metode :
- 7 mahasiswa doktoral dipilih secara purposif (3 laki‑laki, 4 perempuan).
- Wawancara semi‑struktur 60 menit, diiringi catatan lapangan.
- Partisipan menulis jurnal reflektif selama dua minggu.
Temuan Utama :
Fragmentasi proses – kebanyakan partisipan melaporkan kesulitan memisahkan pencarian literatur, penyusunan kerangka teoritis, dan penulisan metodologi.
Dependensi teknologi – penggunaan platform kolaboratif (mis. Google Docs, Zotero) mempercepat iterasi, namun menimbulkan “over‑monitoring” yang menambah stres.
Dukungan sosial – sesi peer‑review informal di laboratorium riset menjadi sumber motivasi utama.
Essence : Menulis proposal di era digital merupakan proses yang terfragmentasi namun dipercepat oleh teknologi, di mana dukungan sosial menjadi kunci untuk mengatasi tekanan psikologis (hasil reduksi fenomenologis, 2025).
5. Implikasi bagi Mahasiswa Pascasarjana
Pemilihan topik : Fenomenologi cocok untuk pertanyaan yang mengeksplorasi makna subjektif, bukan sekadar mengukur variabel.
Pengembangan proposal : Sertakan bagian “Epoche” untuk menjelaskan bagaimana Anda akan menangguhkan asumsi pribadi.
Penggunaan perangkat lunak : NVivo atau ATLAS.ti dapat membantu mengelola kode dan unit makna, namun tidak boleh menggantikan proses reflektif.
Publikasi : Jurnal seperti Qualitative Research in Education atau Journal of Phenomenological Psychology menerima artikel dengan pendekatan ini.
6. Kesimpulan
Studi fenomenologis menawarkan kerangka yang kuat bagi mahasiswa pascasarjana yang ingin menggali kedalaman pengalaman manusia. Dengan landasan filosofis yang jelas, desain yang terstruktur, serta analisis yang sistematis, Anda dapat menghasilkan temuan yang tidak hanya deskriptif tetapi juga essensial bagi teori dan praktik. Kunci keberhasilannya terletak pada konsistensi dalam bracketing , ketelitian dalam pengkodean, dan kejujuran dalam melaporkan variasi individual. Semoga panduan ini membantu Anda merancang dan melaksanakan penelitian fenomenologis yang bermakna dan berdampak.