Studi Explanatory Sequential Design (ESD) untuk Mahasiswa Pascasarjana
Explanatory sequential design (ESD) merupakan salah satu model campuran (mixed‑methods) yang menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif secara bertahap: pertama mengumpulkan dan menganalisis data kuantitatif, kemudian menggunakan temuan tersebut untuk merancang fase kualitatif yang lebih mendalam. Bagi mahasiswa pascasarjana, ESD menawarkan kerangka yang terstruktur untuk menjawab pertanyaan “mengapa” setelah mengetahui “apa” yang terjadi (Creswell & Plano Clark, 2018).
Alur Umum ESD
1. Tahap Kuantitatif – Survei atau eksperimen dilakukan pada sampel besar. Hasil statistik (misalnya regresi, perbedaan rata‑rata) memberikan gambaran umum fenomena.
2. Interpretasi Awal – Mahasiswa menafsirkan temuan kuantitatif, mengidentifikasi pola atau anomali yang memerlukan penjelasan lebih lanjut.
3. Desain Kualitatif – Berdasarkan interpretasi tersebut, pertanyaan wawancara atau fokus grup dirumuskan. Sampel dipilih secara purposif, biasanya lebih kecil namun kaya informasi.
4. Tahap Kualitatif – Data dikumpulkan (wawancara, observasi) dan dianalisis secara tematik.
5. Integrasi – Hasil kualitatif digunakan untuk memperkaya, memperjelas, atau mengkontradiksi temuan kuantitatif, menghasilkan narasi yang holistik.
Kelebihan ESD bagi Peneliti Pascasarjana
- Kejelasan Urutan: Memisahkan fase membantu mengelola kompleksitas metodologis.
- Kedalaman Analisis: Temuan kuantitatif yang tidak jelas dapat dijelaskan melalui wawasan kualitatif.
- Publikasi Ganda: Memungkinkan publikasi artikel kuantitatif dan kualitatif secara terpisah, meningkatkan output penelitian.
Tantangan dalam ESD
1. Waktu dan Sumber Daya: Dua fase berarti lebih banyak waktu dan biaya.
2. Integrasi Data: Menggabungkan temuan memerlukan keahlian analitis yang tinggi.
3. Keterampilan Metodologis: Mahasiswa perlu menguasai statistik dan teknik kualitatif sekaligus.
4. Etika dan Validitas: Memastikan konsistensi interpretasi antar fase.
Langkah Praktis untuk Mengimplementasikan ESD
1. Tentukan Pertanyaan Penelitian Campuran – Misalnya, “Seberapa besar pengaruh program pelatihan X terhadap kinerja dosen, dan mengapa peserta merasakan perubahan tersebut?”
2. Rancang Instrumen Kuantitatif – Pastikan validitas dan reliabilitas; lakukan pilot test.
3. Analisis Data Kuantitatif – Gunakan software (SPSS, R) untuk mengidentifikasi variabel signifikan.
4. Kembangkan Protokol Kualitatif – Susun panduan wawancara yang mengacu pada temuan kuantitatif.
5. Dapatkan Etika – Sertakan informed consent untuk kedua fase.
6. Integrasi Temuan – Sajikan dalam bentuk “joint display” atau narasi gabungan.
Explanatory sequential design memberi mahasiswa pascasarjana alat yang sistematis untuk menghubungkan angka dengan makna. Dengan mengikuti alur yang terstruktur, peneliti dapat menghasilkan temuan yang lebih komprehensif dan relevan bagi praktik maupun kebijakan.