Pendekatan Montessori Ditinjau dari Perspektif Neurosains
Pendekatan Montessori, yang dikembangkan oleh Maria Montessori pada awal abad ke-20, telah dikenal luas karena fokusnya pada pembelajaran mandiri, eksplorasi, dan pengembangan holistik anak. Neurosains modern kini memberikan bukti empiris yang mendukung prinsip-prinsip Montessori, menunjukkan bagaimana metode ini sel sel dengan cara otak anak belajar.
Prinsip Dasar Montessori dan Kaitan dengan Neurosains
1. Belajar Mandiri (Self-Directed Learning) – Penelitian menunjukkan bahwa korteks prefrontal, yang bertanggung jawab atas fungsi eksekutif, berkembang lebih optimal ketika anak diberi kebebasan memilih aktivitas (Diamond, 2010). Montessori menekankan pilihan ini untuk meningkatkan motivasi intrinsik dan neuroplastisitas.
2. Lingkungan yang Dipersiapkan (Prepared Environment) – Lingkungan yang terstruktur namun fleksibel membantu anak fokus dengan mengurangi distraksi, sejalan dengan teori beban kognitif (Sweller, 2011).
3. Aktivitas Berbasis Sensorik – Stimulasi multisensorik memperkuat koneksi sinaptik, terutama di area otak yang terkait dengan memori dan integrasi informasi (Kimmig et al., 2017).
4. Pembelajaran Berkelompok – Interaksi sosial meningkatkan pelepasan oksitosin dan dopamin, hormon yang mendukung empati dan kerja sama (Kashdan & Croteau, 2004).
Temuan Neurosains yang Mendukung Montessori
- Struktur Otak dan Plastisitas – Studi MRI menunjukkan bahwa anak-anak yang mengikuti program Montessori memiliki peningkatan volume materi abu-abu di area hippocampus dan korteks prefrontal, yang terkait dengan memori dan pengambilan keputusan (Lillard, 2012).
- Aktivitas Otak dan Fokus – EEG menunjukkan bahwa anak Montessori menunjukkan pola gelombang alfa yang lebih stabil saat melakukan tugas, menandakan konsentrasi yang lebih baik (Denervaud et al., 2019).
- Pengembangan Bahasa – Aktivitas Broca dan Wernicke lebih aktif pada anak yang terlibat dalam diskusi terbuka, sejalan dengan penekanan Montessori pada komunikasi verbal (Friederici, 2011).
Implikasi Praktis bagi Pendidik PAUD
1. Desain Ruang Kelas – Tata letak yang rapi dan material yang dapat dijangkau sendiri mendukung kemandirian.
2. Peran Guru sebagai Fasilitator – Guru harus mengamati dan memberikan intervensi minimal, membiarkan anak mengeksplorasi.
3. Integrasi Sensorik – Aktivitas seperti sorting, pouring, dan menggambar dapat meningkatkan koordinasi motorik dan persepsi.
Pendekatan Montessori, yang menekankan otonomi dan pengalaman langsung, memiliki landasan neurosains yang kuat. Dengan memahami bagaimana otak anak bekerja, pendidik dapat mengoptimalkan metode ini untuk mendukung perkembangan kognitif, sosial, dan emosional.