Dualisme Pengasuhan: Manfaat dan Potensi Masalah pada Perkembangan Anak
Pengasuhan merupakan proses multidimensi yang melibatkan interaksi antara orang tua, anak, dan konteks sosial‑budaya. Dalam literatur psikologi perkembangan, dualisme pengasuhan—yaitu kombinasi antara pola asuh otoriter dan permisif—telah menjadi fokus kajian karena potensinya untuk menghasilkan outcomes yang beragam pada anak (Maccoby & Martin, 1983).
Manfaat Dualisme Pengasuh
- Fleksibilitas Regulasi Emosi – Anak yang terpapar pada pola otoriter yang menuntut kepatuhan sekaligus lingkungan permisif yang memberi kebebasan belajar mandiri cenderung mengembangkan regulasi emosi yang adaptif (Grusec & Goodnow, 1994). Mereka belajar menilai konteks sosial dan menyesuaikan responsnya sesuai situasi.
- Pengembangan Kemandirian – Permisif memberikan ruang bagi anak untuk membuat keputusan, sementara otoriter menanamkan disiplin yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas (Baumrind, 1991). Kombinasi ini dapat meningkatkan self‑efficacy anak karena mereka merasakan dukungan sekaligus tantangan.
- Keterampilan Sosial yang Nuansional – Interaksi dengan orang tua yang terkadang menegakkan aturan dan terkadang mengizinkan negosiasi membantu anak memahami hierarki dan kooperasi, dua komponen penting dalam kompetensi sosial (Rubin, Bukowski, & Laursen, 2015).
Potensi Masalah Dualisme Pengasuh
- Inkonsistensi Peraturan – Ketidaksesuaian antara otoriter dan permisif dapat menimbulkan kebingungan pada anak, yang pada gilirannya meningkatkan perilaku eksternalizing seperti agresi atau pelanggaran aturan (Darling & Steinberg, 1993).
- Stres Psikologis – Anak yang merasakan tekanan kontrol tinggi sekaligus kurangnya kehangatan emosional dapat mengalami peningkatan kortisol, yang berhubungan dengan risiko anxiety dan depresi (Rothbaum & Weisz, 1994).
- Pengembangan Moral yang Ambigu Jika otoriter menekankan kepatuhan tanpa penjelasan, sementara permisif mengabaikan konsekuensi, anak mungkin tidak internalisasi nilai moral yang konsisten (Kohlberg, 1984).
Implikasi Praktis
Orang tua disarankan mengintegrasikan konsistensi dalam penerapan aturan, memberikan penjelasan rasional saat menegakkan batas, serta tetap menyediakan ruang otonomi yang terarah. Pelatihan parenting berbasis bukti, seperti program Positive Parenting, dapat membantu menyeimbangkan elemen otoriter dan permisif secara koheren (Sanders, 2012).
Dualisme pengasuhan menawarkan peluang bagi perkembangan anak yang seimbang bila diimplementasikan dengan konsistensi dan kehangatan. Namun, inkonsistensi dapat menimbulkan masalah emosional dan perilaku. Penelitian longitudinal diperlukan untuk menguji efek jangka panjang dari pola asuh dualistik serta merumuskan intervensi yang tepat bagi keluarga.