Pengalaman Perdana Enik, S2 PAUD UNESA: Ketika Guru PAUD 'Naik Kelas' Mengajar Mahasiswa UINSA
Rasa cemas dan euforia bercampur menjadi satu. Itulah yang dirasakan oleh Enik, mahasiswi S2 PAUD Universitas Negeri Surabaya (UNESA), saat mendapat kesempatan emas: magang mengajar mata kuliah Dasar-Dasar Pendidikan Anak Usia Dini di Program Studi PIAUD UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya.
Bukan main-main, Enik langsung dipercaya mengampu dua kelas bagi mahasiswa semester satu.
“Jujur, awalnya itu gugup banget. Bayangkan, dari lingkungan PAUD berhadapan dengan anak-anak, tiba-tiba harus berdiri di depan calon guru profesional. Khawatir materinya kurang mantap atau tidak bisa memberikan penguatan seperti dosen senior,” ujar Enik terbuka.
Namun, Enik tidak membiarkan kegugupannya menguasai. Ia menemukan 'senjata' ampuh yang selalu ia bawa: pengalaman nyata sebagai guru PAUD dan ibu.
Mata kuliah yang ia ampu—terutama di awal, yang membahas Hakikat dan Karakteristik Anak Usia Dini serta Tumbuh Kembang Anak—ternyata sangat relevan dengan kesehariannya.
“Saya yakin saja. Ilmu yang saya ajarkan itu sehari-hari saya praktikkan. Ketika membahas karakteristik anak, saya tidak cuma bicara teori. Saya kasih contoh real tentang tingkah laku anak di sekolah atau bahkan pengalaman mengurus anak sendiri di rumah. Ternyata, skill jadi orang tua itu modal dosen yang tidak ternilai,” ceritanya sambil tertawa.
Sentuhan praktis inilah yang membuat suasana kelas menjadi hidup. Mahasiswa semester satu merasa materi yang disajikan lebih membumi dan mudah dicerna, jauh dari kesan teori yang kaku.
Pengalaman mengajar perdana ini bukan sekadar tugas akademik S2 yang diselesaikan. Bagi Enik, ini adalah titik balik. Ia berhasil membuktikan bahwa pengalaman lapangan dan ilmu teoritis dari UNESA dapat berkolaborasi sempurna di mimbar akademik UINSA.
Kekhawatiran di awal kini berubah menjadi keyakinan: bahwa seorang praktisi pun mampu menjadi pengajar yang efektif di tingkat perguruan tinggi, asalkan berani memanfaatkan 'harta karun' berupa pengalaman hidup.
Enik berharap, kisahnya bisa menginspirasi praktisi PAUD lain untuk berani mengambil langkah ke dunia akademis, membawa semangat nyata dari dunia anak ke ruang kuliah.