Menumbuhkan Cinta Alam: Proyek Menanam Bunga Lidah Buaya dan Coleus pada Anak Usia Dini
Proyek menanam bunga lidah buaya dan coleus merupakan kegiatan pembelajaran yang dirancang untuk menumbuhkan kecintaan anak-anak usia dini terhadap alam dan tanah air. Melalui aktivitas menanam tanaman hias ciptaan Allah SWT, anak-anak tidak hanya belajar mengenal makhluk hidup, tetapi juga diajarkan untuk menghargai ciptaan-Nya sekaligus mengembangkan rasa cinta tanah air. Tanaman hias seperti lidah buaya dan coleus yang mudah dirawat menjadi media ideal untuk mengenalkan keindahan alam sekitar sekaligus nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan. Pendekatan pembelajaran holistik-integratif menggabungkan aspek kognitif, motorik, sosial, emosional, dan spiritual secara menyeluruh. Metode pembelajaran yang diterapkan mencakup observasi, praktik langsung menanam, serta diskusi sederhana yang mendorong anak berpikir dan bertanya tentang tanaman dan lingkungan mereka.
Kegiatan menanam bersama ini melatih berbagai keterampilan motorik halus dan kasar anak, seperti menggali tanah, menyiram tanaman, dan merawat bunga secara rutin. Anak-anak juga belajar nilai tanggung jawab, kepedulian terhadap lingkungan, dan rasa cinta tanah air melalui menjaga keindahan tanaman ciptaan Allah SWT. Teori pembelajaran sosial Bandura (1977) menegaskan bahwa keterlibatan aktif dalam praktik nyata memperkuat keterampilan dan membentuk sikap positif, termasuk rasa hormat terhadap alam dan bangsa. Selanjutnya, Erikson (1963) dalam tahap perkembangan psikososialnya menekankan pentingnya fase inisiatif versus rasa bersalah, di mana anak usia dini belajar mencoba dan bertanggung jawab atas tindakan mereka melalui aktivitas yang bermakna seperti menanam tanaman.
Dalam pelaksanaannya, pendekatan pembelajaran yang digunakan adalah holistik-integratif, yang mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak secara menyeluruh, baik kognitif, motorik, sosial, emosional, maupun spiritual. Model pembelajaran yang diterapkan adalah Project Based Learning (PBL), di mana anak-anak terlibat langsung dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan menanam tanaman hias ini secara kontekstual dan bermakna. Metode pembelajaran yang digunakan meliputi observasi tanaman, praktik langsung menanam dan merawat, diskusi sederhana, serta bercerita yang mengaitkan nilai-nilai keagamaan dan cinta tanah air. Pendekatan dan metode ini membantu anak tidak hanya belajar secara teori tetapi juga menginternalisasi nilai-nilai penting melalui pengalaman nyata.
Proyek menanam tanaman hias ini memberikan berbagai manfaat penting bagi perkembangan anak usia dini, khususnya dalam konteks pembelajaran PAUD. Berikut manfaatnya secara rinci:
Mengembangkan keterampilan motorik halus dan kasar
Anak-anak melatih keterampilan motorik halus melalui kegiatan seperti menggali tanah, menanam bibit, dan menyiram tanaman. Aktivitas ini juga melibatkan motorik kasar saat mereka bergerak di area taman atau pot tanaman (Santrock, 2018).Meningkatkan kemampuan kognitif dan observasi
Melalui proses menanam dan merawat tanaman, anak-anak belajar mengamati perubahan yang terjadi pada tanaman, memperkuat kemampuan berpikir kritis dan pemahaman konsep dasar tentang makhluk hidup (Bandura, 1977).Menumbuhkan rasa tanggung jawab dan disiplin
Kegiatan rutin merawat tanaman mengajarkan anak untuk bertanggung jawab dan disiplin menjaga tanaman agar tumbuh dengan baik. Nilai-nilai ini sangat penting dalam pembentukan karakter anak (Erikson, 1963).Mengembangkan empati dan kepedulian sosial
Melalui interaksi dan kerja sama dengan teman saat menanam bersama, anak belajar untuk saling membantu dan peduli terhadap makhluk hidup serta lingkungan sekitar (Vygotsky, 1978).Menanamkan nilai religius dan cinta tanah air
Menanam tanaman ciptaan Allah SWT memperkuat kesadaran spiritual anak dan membangun rasa syukur atas ciptaan-Nya. Kegiatan ini juga menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui kepedulian menjaga keindahan alam dan lingkungan sekitar (Gardner, 1983).Mendorong motivasi belajar yang menyenangkan dan bermakna
Pembelajaran yang melibatkan praktik langsung seperti menanam membuat anak lebih termotivasi dan aktif belajar, sehingga hasil belajar menjadi lebih optimal (Santrock, 2018).Membentuk karakter peduli lingkungan dan nasionalisme
Anak-anak belajar bahwa menjaga tanaman adalah bagian dari menjaga lingkungan dan warisan bangsa, menumbuhkan sikap nasionalisme sejak dini (Vygotsky, 1978).
Bagi guru PAUD, proyek ini menjadi inspirasi untuk menerapkan pembelajaran kontekstual yang menyenangkan dan mendidik, sekaligus menanamkan nilai-nilai karakter dan cinta tanah air dalam kegiatan sehari-hari. Guru juga dapat menggunakan pengalaman ini untuk memperkuat keterlibatan orang tua dan lingkungan sekitar dalam proses pendidikan anak secara holistik.
Daftar Referensi
Bandura, A. (1977). Social Learning Theory. Englewood Cliffs, NJ: Prentice Hall. https://psycnet.apa.org/record/1978-08144-000
Erikson, E. H. (1963). Childhood and Society (2nd ed.). New York, NY: W. W. Norton & Company. https://wwnorton.com/books/Childhood-and-Society/
Gardner, H. (1983). Frames of Mind: The Theory of Multiple Intelligences. New York, NY: Basic Books. https://books.google.com/books?id=3cN3b-4wX7wC
Santrock, J. W. (2018). Child Development (15th ed.). New York, NY: McGraw-Hill Education. https://doi.org/10.1037/0000138-000
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in Society: The Development of Higher Psychological Processes. Cambridge, MA: Harvard University Press. https://www.hup.harvard.edu/catalog.php?isbn=9780674576292