Menerapkan Konsep Deep Learning di PAUD dengan Metode Montessori
Di era pendidikan modern, pendekatan pembelajaran tidak lagi hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga pada proses yang dilalui anak dalam memahami suatu konsep. Salah satu pendekatan yang kini semakin ditekankan di pendidikan anak usia dini adalah deep learning pembelajaran mendalam yang mendorong anak memahami secara utuh, reflektif, dan kontekstual. Untuk mewujudkan hal ini, metode Montessori menjadi salah satu strategi paling relevan dan efektif, karena secara filosofi dan praktik sangat mendukung pembelajaran yang bermakna dan mendalam.
Deep learning dalam konteks PAUD berarti anak tidak sekadar mengenal huruf, angka, atau warna, tetapi juga mampu mengaitkan pengetahuan tersebut dengan pengalaman nyata. Misalnya, ketika anak mempelajari konsep “berat dan ringan” melalui aktivitas memindahkan benda konkret, mereka tidak hanya tahu definisinya, tapi benar-benar merasakan, membandingkan, dan menarik kesimpulan sendiri. Inilah esensi pembelajaran mendalam anak mengalami, refleksi, dan membangun makna secara aktif.
Metode Montessori memiliki landasan kuat dalam mendukung prinsip-prinsip deep learning. Dalam praktiknya, Montessori memberikan kebebasan kepada anak untuk memilih kegiatan yang sesuai dengan minat dan tahap perkembangan mereka. Alat-alat Montessori dirancang untuk digunakan secara mandiri dan berulang, sehingga anak dapat memperdalam pemahaman melalui eksplorasi langsung. Misalnya, melalui alat matematika seperti manik-manik, anak bisa melihat, menyentuh, dan menghitung secara konkret jauh lebih bermakna dibanding hanya menghafal angka.
Lingkungan belajar Montessori yang tertata rapi, tenang, dan terstruktur juga memberikan ruang bagi anak untuk fokus dan mengalami proses belajar yang utuh. Guru dalam pendekatan ini berperan sebagai fasilitator bukan pemberi instruksi. Anak diberi kesempatan untuk mengeksplorasi, mencoba, gagal, dan mencoba lagi sebuah proses alami dalam pembelajaran mendalam yang menumbuhkan rasa percaya diri dan ketekunan.
Selain itu, Montessori sangat menghargai ritme belajar setiap anak. Tidak ada paksaan atau tekanan untuk cepat menguasai sesuatu. Justru, anak didorong untuk mengulang suatu kegiatan sampai mereka merasa siap melangkah ke tahap berikutnya. Hal ini sangat selaras dengan konsep deep learning yang menekankan pada kedalaman pemahaman bukan sekadar kecepatan.
Pembelajaran mendalam juga terjadi saat anak terlibat dalam kegiatan kehidupan sehari-hari (practical life), seperti menuang air, menyapu, atau merapikan peralatan. Meski tampak sederhana, kegiatan ini menumbuhkan kemandirian, konsentrasi, dan ketelitian keterampilan penting yang mendukung proses berpikir mendalam. Anak belajar melalui pengalaman nyata dan membangun keterkaitan antara apa yang mereka lakukan dengan dunia di sekitar mereka.
Dengan demikian, menerapkan konsep deep learning di PAUD melalui metode Montessori bukan hanya memungkinkan anak memahami pelajaran secara lebih dalam, tetapi juga membentuk fondasi karakter yang kuat. Anak belajar menjadi pribadi yang mandiri, reflektif, dan cinta belajar. Mereka tidak hanya tahu "apa", tetapi juga "mengapa" dan "bagaimana".
Di tengah tantangan pendidikan masa kini yang serba instan, mengintegrasikan deep learning dan Montessori merupakan pilihan bijak untuk menciptakan generasi pembelajar yang tangguh dan bermakna sejak usia dini.
Berapa Lama Anak Boleh Main HP? Ini Jawaban Ahli
Di zaman serba digital seperti sekarang, tak sedikit orang tua yang menghadapi dilema: membolehkan anak bermain HP atau melarang sama sekali? Anak usia dini yang sudah bisa membuka YouTube sendiri atau memainkan game edukatif memang terlihat menggemaskan. Tapi, apakah mereka benar-benar siap? Dan berapa lama sebenarnya waktu yang wajar bagi anak untuk bermain handphone?
Pertanyaan ini makin sering muncul di kalangan orang tua muda yang mulai menyadari bahwa dampak penggunaan HP pada anak usia dini tidak bisa disepelekan. Di satu sisi, gawai dianggap membantu orang tua ‘menenangkan’ anak. Tapi disisi lain, terlalu sering menatap layar bisa berdampak serius pada tumbuh kembang anak.
Saran Ahli: Bukan Asal Main, Tapi Harus Sesuai Usia
Menurut panduan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan juga Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), anak-anak usia dini sebenarnya tidak disarankan terpapar layar terlalu lama bahkan pada usia tertentu sebaiknya dihindari sama sekali.
Untuk anak di bawah usia 2 tahun, WHO menegaskan bahwa tidak ada waktu layar yang direkomendasikan, kecuali video call dengan keluarga.
Anak usia 2 hingga 5 tahun disarankan maksimal 1 jam per hari, itu pun dengan pendampingan orang dewasa.
Memasuki usia 6 tahun ke atas, anak bisa mulai diperkenalkan pada penggunaan handphone yang lebih fleksibel, tetapi tetap tidak lebih dari 1–2 jam per hari, dan harus tetap diawasi.
Bukan soal lamanya waktu saja, namun juga apa yang ditonton dan bagaimana anak menonton menjadi perhatian utama. Bahaya Jika Anak Terlalu Lama Menatap Layar. Beberapa orang tua mungkin berpikir, “Ah, anak saya kan cuma nonton kartun sebentar.” Tapi tahukah kamu? Banyak anak usia dini yang menunjukkan tanda-tanda kecanduan layar tanpa disadari orang tuanya.
Dampak negatif yang bisa muncul antara lain: Gangguan tidur dan sulit fokus, keterlambatan bicara karena minim interaksi nyata, mudah tantrum atau marah saat layar dimatikan, penurunan kemampuan sosial dan motorik karena kurang bergerak. Hal-hal ini tentu bisa berdampak jangka panjang jika tidak segera diatasi. Solusinya yaitu bijak mengelola waktu layar anak
Lalu, bagaimana cara yang tepat untuk mengatur penggunaan HP pada anak?
Pertama-tama, buatlah jadwal yang seimbang. Misalnya, anak hanya boleh menonton setelah menyelesaikan rutinitas harian seperti mandi, makan, dan bermain fisik. Gunakan alarm atau timer agar anak tahu kapan waktunya berhenti.
Kedua, selalu dampingi anak saat menggunakan gawai. Dengan begitu, orang tua bisa berdialog dengan anak tentang apa yang mereka tonton atau mainkan. Ini akan jauh lebih bermakna dibanding membiarkan anak bermain sendirian.
Ketiga, pastikan anak tetap aktif secara fisik dan sosial. Aktivitas seperti menggambar, bermain peran, berkebun, hingga bersepeda jauh lebih bermanfaat untuk perkembangan otak dan tubuh anak dibanding bermain HP terlalu lama. Orang tua harus jadi contoh. Jika orang tua sibuk dengan ponsel sepanjang hari, anak tentu akan meniru. Maka, ciptakan waktu bebas gawai di rumah, seperti saat makan atau menjelang tidur.
Gawai memang bagian dari kehidupan masa kini, tapi penggunaannya harus diatur dengan bijak, apalagi untuk anak-anak usia dini. Bukan berarti harus dilarang sepenuhnya, namun anak perlu diarahkan, dibimbing, dan dibatasi sesuai dengan kebutuhan usianya. Anak tidak membutuhkan layar untuk tumbuh optimal. Mereka butuh perhatian, interaksi nyata, dan kesempatan bermain di dunia nyata yang jauh lebih kaya daripada layar HP. Jadi, berapa lama anak boleh main HP? Jawaban para ahli jelas: secukupnya, sesuai usia, dan selalu dengan pendampingan.