Membentuk Karakter Anak Usia Dini di Era Digital
Di era digital yang terus berkembang, teknologi telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan anak-anak. Dengan akses yang begitu luas terhadap informasi dan komunikasi, dunia digital menawarkan manfaat luar biasa—membantu mereka belajar, berinteraksi, dan mengeksplorasi dunia dengan cara yang tak pernah ada sebelumnya. Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat tantangan besar dalam pembentukan karakter anak. Mengajarkan anak untuk memiliki karakter yang kuat dan positif bukanlah sekadar memastikan mereka memiliki pengetahuan, tetapi juga membekali mereka dengan nilai-nilai fundamental yang akan membentuk kepribadian mereka. Kejujuran, disiplin, dan empati menjadi pondasi penting agar mereka dapat menjalani kehidupan dengan tanggung jawab dan kebijaksanaan. Dalam hal ini, peran orang tua dan pendidik tidak bisa diremehkan. Mereka adalah sosok utama yang membimbing anak agar tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga menggunakannya secara sehat dan bertanggung jawab. Lebih dari sekedar aturan, pembentukan karakter anak di era digital membutuhkan pendekatan yang mendalam dan berkelanjutan. Anak perlu diajak untuk memahami makna dari tindakan mereka, diberikan ruang untuk berpikir kritis, dan diajarkan bagaimana berinteraksi secara positif dalam dunia maya maupun nyata. Dengan strategi yang tepat, mereka tidak hanya tumbuh menjadi individu yang tangguh dan kreatif, tetapi juga memiliki kecerdasan emosional yang mampu menghadapi berbagai tantangan zaman.(Sundahry et al., 2023)
Peran Orang Tua dan Anak dalam Membangun Karakter Positif
Dalam era digital ini, peran orang tua sangat penting dalam mendidik karakter anak agar anak terhindar dari dampak negattif era digital ini. Adapun Tindakan yang dapat dilakukan orang tua dalam mendidik anak di era digital ini ialah sebagai berikut:
Menetapkan nilai-nilai dasar keluarga sebelum mendidik anak, sehingga batasan konten digital baik dan buruk sangat bergantung pada nilai-nilai keluarga.
Menanamkan nilai-nilai anti kekerasan dan pornografi kepada anak-anak, sehingga mereka dapat menolak konten sejenis yang muncul secara tiba-tiba.
Memberikan contoh perilaku bermedia digital kepada anak, karena anak-anak cenderung meniru perilaku orang dewasa. Tentukan waktu bermedia digital yang tidak mengganggu kegiatan kegiatan penting seperti makan, istirahat, belajar, bermain, beribadah, dan interaksi keluarga.
Membiasakan diri hanya mengakses informasi yang penting dan bermanfaat, dan menunjukkan kebiasaan tersebut kepada anak-anak.
Berdiskusi dengan anak mengenai masalah-masalah negatif yang dapat diakibatkan oleh media digital, disesuaikan dengan usia mereka.(Ruchiyat et al., 2024)
Pengaruh teknologi digital pada pembentukan karakter anak
Teknologi mempunyai dampak positif dan negatif. Untuk itu pendidik harus mengawasi peserta didik ketika menggunakan teknologi. Anggota keluarga terdekat siswa juga turut serta mengawasi dan membimbing penggunaan teknologi oleh siswa sehingga siswa dapat menyaring dan membedakan baik buruknya dampak dari teknologi itu sendiri. Adapun dampak positif dan negatif teknologi digital pada [embentukan karakter anak sebagai berikut :
Dampak Positif
Sarana penyampaian informasi, informasi suatu kejadian secara cepat, tepat dan akurat
Mempermudah akses terhadap informasi baru, memperoleh informasi kapanpun dan dimanapun.
Media sosial, mempertemukan individu dengan orang yang baru, mempertemukan individu dengan teman lama yang jarang sekali bertemu, saran berbisnis.
Membantu dalam mencari informasi bahan pelajaran bagi peserta didik.
Media hiburan.
Sebagai eksistensi seseorang dalam media sosial.
Mempermudah komunikasi meskipun dalam keadaan jarak yang jauh.
Dampak Negatif
Anak bersifat Individual, berkurangnya tingkat pertemuan langsung atau interksi antar sesama manusia.
Temperamen, kebiasaan bersosialisasi dengan media sosial, maka anak akan beranggapan bahwa dunia luar adalah ancaman.
Berita tanpa tanggung jawab, berita Hoax, Bulying
Rentannya kesehatan mata, terutama mengalami rabun jauh atau rabun dekat.
Tak bisa menikmati hidup. Ketika menghadiri sebuah acara pesta, kita malah asik berfoto, tanpa menimati acara pesta dan musik.
Radiasi alat hasil teknologi membahayakan kesehatan otak anak.
Maraknya kasus penipuan lewat sms, telepon dan internet.
Mudahnya mengakses video porno.
Anak lupa akan pekerjaan rumah yang ditugaskan oleh guru dan lupa melaksanakan ibadah, seperti sholat dan mengaji.
Anak menjadi sasaran kejahatan, seperti penculikan anak dan pemerkosaan anak.(Sundahry et al., 2023)
Metode yang digunakan dalam membentuk karakter anak di era digital
Penanaman pendidikan karakter melibatkan pihak orang tua, guru dan juga masyarakat. Metode yang dapat dilakukan dalam penanaman pendidikan karakter ialah sebagai berikut:
Metode Pembiasaan adalah sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berfikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan ajaran agama Islam. Melalui pembiasaan, peserta didik yang memiliki “rekaman” ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian yang belum matang, akan mudah mengingat dengan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Oleh karena itu, sebagai awal dalam proses pendidikan, pembiasaan merupakan cara yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai moral ke dalam jiwa anak didik. Nilai-nilai yang tertanam dalam dirinya ini kemudian akan termanifestasikan dalam kehidupannya semenjak ia mulai melangkah ke usia remaja dan dewasa
Metode Keteladanan Keteladanan adalah peniruan, yakni proses meniru peserta didik terhadap pendidik, proses meniru yang dilakukan anak-anak terhadap orang dewasa, proses meniru yang dilakukan anak terhadap orang tuanya; proses meniru murid terhadap gurunya, proses meniru yang dilakukan anggota masyarakat terhadap tokoh masyarakat. Bahwa dalam keteladanan terjadi proses meniru. Pada fase anak-anak cenderung seringkali menirukan apa yang dilihat dan didengarnya tanpa mengetahuinya itu salah atau benar.(Nikmah, 2023)
Peran orang tua sangat krusial dalam membangun karakter positif anak di era digital. Orang tua perlu menetapkan nilai-nilai dasar keluarga sebagai landasan dalam membimbing anak menyaring konten digital yang baik dan buruk. Penanaman nilai anti kekerasan dan pornografi, memberikan contoh perilaku bermedia digital yang sehat, serta membiasakan diri mengakses informasi yang bermanfaat menjadi langkah penting agar anak terhindar dari dampak negatif teknologi. Diskusi terbuka mengenai risiko media digital yang disesuaikan dengan usia anak juga membantu meningkatkan kesadaran dan kemampuan anak dalam mengelola pengaruh digital.